MAKNA TAHUN BARU ISLAM

MAKNA TAHUN BARU ISLAM

 



Sofia Ulfa

 Agustus 2021

Di dunia, terdapat banyak jenis penanggalan tanggal bulan tahun yang sistemnya pun berbeda-beda dan dianut oleh beragam kepercayaan pula. Salah satu yang patut kita yakini yaitu Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriyah yang bertepatan pada tanggal 1 Muharram. Penanggalan Hijriyah ini tentu berbeda dengan penanggalan Masehi yang mayoritas orang di Indonesia bahkan dunia gunakan untuk menentukan satuan waktu. Tetapi, sebagai seorang muslim tentu kita juga harus mengenal lebih baik mengenai Tahun Baru Islam 1 Muharram ini. Sebenarnya apa saja sih makna yang bisa dipetik dari tahun baru Islam dan kenapa sebaiknya kita teladani?

Tahun baru 1 Muharram merupakan pergantian tahun di dalam agama Islam yang memakai sistem perhitungan Masehi dengan sistem matahari yang sudah dimulai sejak zaman Nabi Isa A.S, dapat disimpulkan bahwa tahun baru 1 Muharram merupakan pergantian tahun umat muslim memakai metode penanggalan bulan dan sudah dimulai sejak Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Tahun baru Islam akan diperingati setiap tanggal 1 Muharram oleh kaum muslim.

Makna tahun baru 1 Muharram bagi umat muslim

1.      Momentum adanya pergantian tahun.

Tentu ini menandakan akan perubahan tahun Hijriyah dari yang sebelumnya ke yang baru. Momen pergantian tahun baru Islam bagi beberapa umatnya sering dirayakan dengan berbagai aktivitas berbeda, seperti sembari membaca Al-Qur’an, berdzikir kepadaNya, dan masing banyak lagi.

2. Momen Penting: Nabi Muhammad SAW Hijrah

Makna tahun baru Islam berikutnya juga memiliki arti hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi yang telah menjadi peristiwa penting lahirnya Islam sebagai agama yang berjaya. Dari hijrah tersebut, Islam mulai mengalami perkembangan yang pesat dan semakin luas sampai ke Mekah dan beberapa daerah di sekitarnya.

            Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah bukan tanpa alasan, namun karena memperoleh wahyu dan juga sebuah respon untuk menanggapi masyarakat Arab yang tidak terlalu berkenan dengan ajaran Islam. Dengan peristiwa hijrah tersebut, Islam juga mulai mengalami peningkatan dalam menunjukkan diri dan menjadi negara Islam dapat terbentuk. Daulah Islamiyah di zaman Nabi Muhammad sangat menjunjung tinggi toleransi yang termaktib dalam Piagam Madinah.

            Kalender Hijriyah yang menjadi sistem penanggalan kaum Muslim ini menjadikan hijrah sebagai awal perhitungan tahun dalam Islam. Kita pun sering mendengar/membaca istilah "Tahun Kedua Hijrah" dan semacamnya. Sehingga “Hijriyah” adalah pengembangan dari maksud “Hijrah”.

3. Semangat Perjuangan Tanpa Putus Asa

 Makna tahun baru Islam yang berikutnya dapat diartikan sebagai semangat perjuangan tanpa mengenal rasa putus asa serta optimis yang tinggi yakni semangat hijrah dari hal buruk menuju hal yang penuh dengan kebaikan. Rasulullah SAW serta para sahabatnya melawan rasa sedih dan juga takut saat hijrah dimana mereka harus meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan juga harta benda yang mereka miliki.

4.   Bukti Bahwa Allah Maha Adil

Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah bukti dari Maha Adilnya Allah SWT. Tidak seperti tahun Masehi di mana permulaan hari atau pergantian hari terjadi di jam 00:01, namun tahun baru Islam dimulai saat matahari terbenam atau munculnya bulan. Inilah yang menyebabkan Tahun Masehi dari Isa Al Masih dalam Islam dinamakan Tahun Syamsyiah. Sementara untuk tahun Hijriah atau tahun Islam dinamakan tahun Qimariah

Bukti dari maha adil Allah SWT akan terlihat pada daerah dekat equator atau khatulistiwa seperti Indonesia, Malaysia dan beberapa negara Arab yang merupakan negara dengan umat Islam terbesar, fluktuasi lamanya berpuasa untuk setiap tahun hampir tidak banyak memiliki perbedaan. Hal ini tidak terjadi di beberapa belahan bumi lain di mana waktu berpuasa bisa lebih singkat atau lebih lama.



 5. Momen Introspeksi Diri (Muhasabah)

Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah sebagai momen introspeksi diri atau yang biasa disebut dengan muhasabah. Dengan memasuki tahun baru Islam atau Hijriah, maka kita akan memasuki 1 Muharram yang berarti sudah meninggalkan tahun yang sudah berlalu dan memasuki tahun yang baru.

Dalam menyambut tahun baru Islam, kita juga bisa merenungi perbuatan kita di tahun-tahun sebelumnya dan merencanakan tujuan di tahun yang baru ini dengan resolusi-resolusi yang kamu tetapkan sendiri. Tentunya resolusi ini merupakan resolusi yang baik dan harus diiringi oleh usaha yang tekun dan berdoa yang tanpa henti, berharap kepada Allah ta’ala.

6. Momen untuk Menuju Kepada Kebaikan

 Makna tahun baru Islam juga memiliki artian bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan juga untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang. Ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. Al-Baqarah : 218).

7. Pengingat akan Pentingnya Berakhlak Mulia

 Makna tahun baru Islam yang selanjutnya adalah dapat menjadi pengingat dari pentingnya akhlak mulia. Tentu sering kita dengar bahwa berilmu saja tidak berguna jika kamu tidak berakhlak. Akhlak mulia akan menjadi pendorong kamu untuk dapat terus berbuat baik dan menebar kebaikan itu kepada banyak orang, yang kemudian hasil kebaikan itu akan kamu tuai kembali di kemudian hari. Percayalah akan sebuah kebaikan yang dihasilkan dari kebaikan

 

 

 

Referensi: https://pergiumroh.com


MEMAKNAI HARI RAYA IDUL ADHA

MEMAKNAI HARI RAYA IDUL ADHA

 


Sofia Ulfa

Juli  2021

Idul Adha secara bahasa adalah hari raya haji. Hal ini dikarenakan peringatan Idul Adha bertepatan dengan puncaknya ritual ibadah haji selama di Makkah. Secara istilah, Idul Adha juga disebut sebagai Idul Qurban atau Lebaran Haji karena memperingati peristiwa penyembelihan Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim sebagai salah satu bukti ketaatan mereka berdua.

Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi kesayangan Allah. Kecintaan dan ketaatannya sangat membuat iri para malaikat. Nabi satu ini tak memiliki putra hingga usia senja. Karena terus berdoa, akhirnya Allah izinkan Nabi Ibrahim mendapatkan putra dari istrinya, Siti Hajar, di hari tuanya. Anak yang lahir tersebut diberi nama Ismail.

Ketika Ismail berusia 10 tahun, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi yanh terus berulang. Mimpi itu datang dari Allah yakni perintah untuk menyembelih putranya sendiri, yakni Ismail. Sebagai ayah, tentu ada rasa sedih dan hancur dengan perintah dari Allah tersebut. Akan tetapi, karena ketaatan beliau kepada Allah sangat besar, Nabi Ibrahim pun berniat untuk melaksanakannya dengan bertanya pada Ismail terlebih dahulu.

Saat Nabi Ibrahim mengutarakan maksud kepada anaknya, ternyata jawaban Ismail sungguh di luar dugaan. Dirinya bersedia untuk disembelih karena dia yakin ayahnya adalah sosok sholeh yang tidak akan berbohong kepada siapapun. Pernyataannya ini memberikan makna Idul Adha  semakin istimewa dirasakan.

Pada hari yang telah disepakati keduanya sudah siap untuk menjalankan perintah Allah. Ismail meminta sang ayah untuk mengikat tubuhnya dengan tali dan mengasah pisaunya dengan tajam agar dirinya tak merasakan sakit. Sungguh Maha Besar Allah atas segala kuasa, saat pisau Ibrahim sampai pada leher Ismail, tubuhnya langsung digantikan dengan domba.

Hal inilah yang mendasari pemilihan hewan domba atau kambing menjadi salah satu hewan yang dianjurkan untuk disembelih ketika qurban. Dengan berqurban, makna Idul Adha sebagai salah satu amal ibadah duniawi akan sampai pahalanya hingga akhirat. Banyak pendapat ulama yang menyatakan bahwa hewan qurban yang disembelih akan menjadi kendaraan saat manusia berada di jembatan siratal mustaqim.



Sunnah yang Dianjurkan ketika Idul Adha

Cara masyarakat melaksanakan Idul Adha biasanya diawali dengan shalat Ied berjamaah seperti hari raya Idul Fitri. Setelahnya, mendengarkan khutbah idul adha yang berkaitan dengan amalan berqurban dan keteladanan dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di antara sunnah yang baik dilakukan ketika Hari Raya Idul Adha adalah sebagai berikut.

1.     Mandi sebelum sholat Idul Adha

2.    Memakai pakaian terbaik

3.    Memakai wewangian

4.    Tidak makan sebelum sholat Idul Adha

5.    Meresapi makna Idul Adha dengan banyak bertakbir dan berdzikir

6.     Mendengarkan khutbah

7.     Memilih jalan yang berbeda ketika pulang dari masjid

Apa hikmah pelaksanaan sholat Idul Adha? Pelaksanaan sholat Idul Adha dan perayaannya adalah sebuah wujud kesungguhan atas ikrar iman dalam hati. Selain itu, Idul Adha juga dapat dimaknai sebagai wujud perjuangan. Hal ini dikarenakan seluruh rangkaian ibadah haji di bulan Dzulhijjah adalah perjuangan. Dibutuhkan fisik yang kuat dan mental baja untuk bisa menyelesaikannya.


Makna dalam Pelaksanaan Idul Adha untuk Umat Islam

Di antara beberapa makna Idul Adha yang ingin dijunjung adalah sebagai berikut.

1. Amalan yang mendatangkan pahala

Melaksanakan salah satu ajaran yang dicontohkan Nabi Ibrahim, menjadikan kegiatan qurban sebagai salah satu amalan yang banyak mendatangkan pahala. Tak hanya akan berdampak baik untuk diri sendiri, melainkan juga memberikan cipratan rezeki yang berkah untuk orang lain. Tak mengherankan bila kegiatan Idul Adha menjadi ritual yang dinantikan banyak orang.

2. Mendekatkan diri kepada Allah

Dalam Al Quran Surat Al Kautsar ayat 2 diterangkan, “Fashalli lirobbika wanhar,” yang artinya “Maka sholatlah kamu sekalian, kemudian berqurbanlah (sebagai bentuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”. Ayat ini menjadi bukti bahwa ketaatan dalam melaksanakan qurban bisa menjadi manifestasi bentuk penghambaan diri manusia kepada Sang Pencipta.

3. Belajar untuk ikhlas

Contoh keikhlasan Nabi Ismail adalah wujud makna Idul Adha yang sesungguhnya. Bahwa kerelaan hatinya untuk menjadi “qurban” untuk menjalankan perintah Allah. Dari kisah dua nabi tersebut, umat islam banyak belajar untuk menyemai rasa ikhlas sejak masih dini dan berharap ridha hanya kepada Allah.

Menilik makna dan hikmah Idul Adha yang terbangun dari kisah kedua nabi utusan Allah tersebut, maka sangat wajar bila pada akhirnya banyak umat islam yang mengusahakan amalan ini. Betapa amalan berqurban ini menjadi sebuah napak tilas yang begitu indah antara seorang bapak, anak, dan Rabb-Nya, yakni Allah SWT.

4. Contoh untuk memberikan pengorbanan

Makna Idul Adha ini juga sebagai salah satu contoh untuk memberikan pengorbanan yang nyata. Bahwa Nabi Ismail menjadi teladan yang baik tentang keimanan yang dibangun kuat oleh keluarga, terutama sang ayah. Pondasi ini yang membuat Nabi Ismail tidak meragukan ayahnya ketika dijabarkan mimpi untuk menyembelih putranya tersebut.

5. Sebagai pembersih harta

Berqurban juga bagian dari bentuk sedekah. Sehingga hal ini bisa menjadi salah satu pembersih harta bagi siapa saja yang mengamalkannya. Berhari raya dengan menyembelih sapi atau kambing menjadi sebuah bukti bahwa Anda merupakan hamba Allah yang sedang berupaya membuktikan iman dengan mengamalkan salah satu sunnah Nabi Ibrahim ke dalam kehidupan.

6. Berqurban adalah penafsiran tersirat untuk membunuh nafsu

Salah satu makna Idul Adha yang kerap luput diperhatikan yakni ibadah berqurban menjadi sebuah amalan yang bisa diibaratkan sebagai jembatan pembunuh nafsu. Maksudnya, penyembelihan hewan qurban menjadi lambang tersirat dari pembunuhan hawa nafsu hewani dalam diri manusia.

Hewan qurban menjadi contoh objek yang harus ‘dibinasakan’ sifat-sifatnya dalam diri manusia.  Tak heran bila Anda mendengar istilah bahwa manusia merupakan jenis ‘hewan’ yang berakal, yang pada dasarnya adalah sama seperti makhluk lainnya.

7. Momen yang tepat untuk berbagi dan silaturahim

Idul Adha menjadi sebuah momen yang baik untuk berbagi dengan sesama. Pahala silaturahim dan kepedulian menjadi sebuah jembatan yang baik bagi seluruh umat islam. Apalagi bila Anda menyelipkan kado berupa produk Hijab.id kepada rekan-rekan muallaf yang baru belajar berislam secara kaffah. Tentu kebahagiaan akan berlipat ganda.

Dengan tetap berpegang pada hakikat dan makna Idul Adha, kemudian  mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan menjadi sebuah kebaikan. Tak hanya baik secara amalan akhirat, tapi juga kebaikan di dunia.

 

Referensi: https://hijab.id/blog


1000 HARI TUMBUH KEMBANG ANAK DALAM ISLAM

1000 HARI TUMBUH KEMBANG ANAK DALAM ISLAM

Sofia Ulfa

Juni 2021

Pada tanggal 23- 24 Juni 2021, Kantor Kementerian Agama kabupaten Nganjuk menggelar Bimbingan Perkawinan Pranikah Bagi calon Pengantin Angkatan ke-IX 2021 bertempat di KUA Pace. Pada bimbingan pernikahan tersebut salah satu materi yang sangat penting adalah materi tentang 1000 hari tumbuh kembang anak dalam Islam.

Seribu hari pertama kehidupan adalah masa terpenting untuk pertumbuhan otak. Segala kerusakan yang terjadi pada masa ini kemungkinan akan menjadi permanen dan tidak dapat diperbaiki. Kekurangan gizi pada masa ini tidak hanya menyebabkan pertumbuhan terhambat, perkembangan otak juga menjadi tidak maksimal sehingga kemampuan kognitif terhambat.

  Menurut Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A (K), dokter spesialis anak pada Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UI-RSCM, anak yang pernah mengalami gizi buruk dan stunting mengalami hambatan perkembangan kognitif sebesar 10 persen. Rendahnya kemampuan kognitif menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk.

 Stunting juga menimbulkan risiko melahirkan anak dengan berat badan rendah di masa depan serta masa hidup yang lebih pendek. Anak yang menderita stunting saat dewasa nantinya berisiko terkena penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, diabetes, dan hipertensi. Menurut artikel Kompas pada Mei 2015, penyakit-penyakit tersebut termasuk dalam lima penyebab kematian tertinggi di Indonesia pada 2014. Kekurangan gizi pada anak juga menyebabkan gangguan pembakaran lemak atau kemampuan yang kurang untuk menyerap oksidasi lemak sehingga mengakibatkan obesitas. Karena itu, untuk mencegah stunting perlu intervensi gizi pada wanita yang akan hamil, selama masa kehamilan, dan setelah anak lahir sampai usia dua tahun.

Mengawali dengan menyampaikan pentingnya makan bagi manusia. Dalam Al-Qur’an juga banyak disebutkan bahwa makan dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Ayat-ayat tersebut antara lain :

1. Manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi

makanan yang halal dan thayyib. {QS An-Nahl

(16):114, QS Al-Maidah (5) : 88, QS Al-Baqarah

(2):68 dan QS Al-Mukminun (23):51}

2. Melarang makanan tertentu yang dianggap

haram. {QS Al-Baqarah (2):68 dan QS Al-Maidah

(5):3 dan QS Al-An'am (6):145}

3. Ayat-ayat mengenai perintah makan selalu

diikuti dengan perintah melakukan aktivitas

tertentu. Terdapat tidak kurang dari 27 ayat yang

berbicara tentang masalah ini.

4. Dianjurkan agar tidak boleh makan berlebihan. {QS Al-A'raf (7):31 dan QS Thaha (20):81}

5. "Hendaklah manusia memperhatikan makanannya", demikianlah anjuran yang tersurat dalam QS 'Abasa (80):24.

Ketika kita makan diharuskan melihat apa yang akan kita makan apakah bermanfaat atau tidak lagi butuh (halal dan toyyib). 1000 hari kehidupan sangat penting untuk mengatasi stunting. Sejak program hamil harus dipersiapkan kecukupan gizi, karena sangat mempengaruhi anak yang dilahirkan mengalami stunting atau tidak. 1000 HPK adalah masa awal kehidupan yang dimulai sejak anak berada di dalam kandungan.



Pengaruh dari beberapa faktor menjadi penyebab langsung stunting mempengaruhi status gizi anak. Kenapa 1000 hari sangat penting karena merupakan masa pertumbuhan yang paling optimal sebagi anak. Kalau ibu-ibu mengalami kekurangan gizi dan kekurangan energi saat kehamilan atau KEK (Kekurangan Energi Kronis). Dikatakan tidak mengalami kekurangan gizi adalah jika berat badan anak mengalami lahir tidak kurang dari 2,5 kg, Jika anak lahir dengan berat kurang maka bisa dikatakan terkena stunting.

Ayat 102 mengatakan “bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya”, memaknai taqwa kepada Alloh ada makna intelektualitas bermakna kognitif. Kata “Ittaqu” kembali pada menjaga/memelihara” menjaga dari berbagai hal yang memungkinkan seorang muslim itu ada pada orang-orang yang melaksanakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, Nabi menyebutnya mukmin yang kuat bukan hanya agamanya saja, namun juga akal dan jasmaninya. Bahasa latinnya “Men sana in corpore sano”.

            Islam mengajarkan agar hidup sehat dan menjauhi stunting anak karena stunting mengakibatkan mengurangi kualitas khoirul ummah, padahal kita diamanahkan oleh Alloh untuk menjadi khoirul ummah yang memenangkan kompetisi. Ada 10 Mukmin yang kuat bisa mengalahkan 200 dan 100 mukmin yang kuat bisa mengalahkan 1000. Pengertian mengalahkan bukan hanya pada peperangan tapi dikembalikan pada fastabiqul khoirot. Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah.

            Perkembangan ekonomi pada zaman rasul, para sahabat banyak yang cacat secara fisik karena kekurangan gizi, namun yang menarik mereka hidup layaknya orang yang biasa (normal). Setelah sahabat mempunyai anak dalam kondisi ekonomi yang baik maka anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang pertumbuhannya baik.

            Kalau kita baca ayat Al-Qur’an, selain menjadi sumber hukum juga menjadi sumber ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip bagaimana orang yang berilmu tentu berbeda dengan orang yang tidak berilmu pengetahuan. Berkaitan dengan gizi, Al-Qur’an memerintahkan meski secara isyari ibu yang melahirkan itu lemah lalu ada hadist yeng menyebutkan ada perempuan yang bertengkar kemudian melempar ibu yang lain yang kemudian janinnya meninggal. Janin yang ada di perut sudah diposisikan sama dengan manusia, maka saat manusia hidup sama dengan saat konsepsi sehingga haknya sama dan harus diperhatikan kebutuhan gizinya.

            Termasuk perintah untuk menyusui anaknya sampai usia 2 tahun bunyi kalimatnya khobariyah namun sifatnya adalah perintah. Jika tidak mampu melakukan maka dianjurkan untuk menyusukan anaknnya pada orang lain, maka bank ASI menjadi hal yang harus di perhatikan bersama

 

 

 

Referensi: Diklat Catin KUA Pace dan  http://digilib2.unisayogya.ac.id

MAKNA HARI KEMENANGAN

MAKNA HARI KEMENANGAN


 

Sofia Ulfa

 

Mei 2021

Umat Islam telah melakukan ritual besar selama satu bulan penuh, yaitu shiyam ramadhan, plus seluruh rangkaian ibadah dan amal kebajikan lainnya, seperti shalat-shalat sunnah, tadarrus al-Qur’an, shadaqah, dan lain sebagainya. Maka hari ini atau bulan Syawal, kita digolongkan oleh Allah menjadi orang yang mendapat kemenangan dan kembali ke fitrahnya semula (Ied al-Fitri), ja’alana Allah wa iyyakum min al-‘adin wal-faizin wa adkhalana waiyyakum fi zumrati ibad al-shalihin. Idul fitri ada karena adanya shiyam ramadhan, maka tidak ada nilai dan identitas fitri jika tidak ada pelaksanaan shiyam ramadhan. Kenapa orang mukmin saat ini dikembalikan ke fitrahnya? Mari kita flash back dan kaji kembali.

Selama bulan Ramadhan hingga Syawal, seluruh karunia ditumpahkan oleh Allah kepada umat Islam. Paling tidak ada tujuh macam karunia itu: pertama, rahmat (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh pertama (al-‘asyr al awwal); keduamaghfirah (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh kedua atau pertengahan (al-‘asyr al-ausath); ketiga, pembebasan (yang telah diturunkan pada putaran sepuluh terakhir (al-‘asyr al-awakhir); keempatlailatul qadar yang diturunkan pada malam-malam ganjil (yang nilainya lebih baik dari seribu bulan setara dengan 83 usia manusia); kelima, zakat fitrah, (yang dapat membersihkan dosa-dosa dan mengembalikan fitrah manusia); keenam, pahala puasa 6 hari syawal, (yang nilainya setara dengan puasa satu tahun); ketujuh, halal bi halal (saling memaafkan di antara kita, yang dapat menghapus dosa antarsesama).

Bagi umat Islam, sekarang ini sedang memasuki babak baru, babak kembali ke fitrah yang suci. Karena muara ibadah berpuasa ramadhan adalah terbentuknya muslim yang bertakwa.Dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran, ayat 133 Allah Swt menegaskan bahwa di antara ciri-ciri orang bertakwa itu diantaranya ada empat yaitu:

Pertama, menginfakkan sebagian harta baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Maknanya adalah, orang yang selalu rajin dan ajek beramal serta ikhlas lillahi Ta’ala. Kebiasaan bersedekah seperti ini juga dicontohkan oleh ‘Aisyah radhiyallah ‘anha, istri Rasulullah Saw. yang rutin bersedekah meski hanya dengan sebiji kurma sekalipun.  Bahkan di dalam riwayat lain Nabi menyebutkan, bahwa harta yang dikeluarkan untuk kepentingan sedekah itu tidak akan mengurangi sedikitpun kekayaan seseorang, melainkan justru menjadi investasi akhirat yang akan dinikmati hasilnya. Ini tentu sangat bebrbeda dengan kondisi di dunia ini. Jika seseorang menginvestasikan uangnya di Bank-Bank yang ada di dunia ini, pada suatu saat jika Bank-Bank tersebut harus gulung tikar atau dilikuidasi, maka para investor itu akan ikut merugi.

Dalam surat al-Baqarah: 261 Allah menjelaskan,

مثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍ ۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

Bahwa perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir tumbuh seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendaki, dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi infak untuk kepentingan jihad fi sabilillah, pembangunan tempat-tempat ibadah: masjid, mushalla, madrasah, rumah sakit, lembaga-lembaga sosial lainnya yang diridhai oleh Allah Swt.

Kedua, ciri-ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya, yaitu orang-orang yang jika diberi cobaan oleh Allah Swt. tetap sabar dan tidak emosi dan keluh kesah. Orang-orang inilah yang oleh Rasulullah Saw. disebut sebagai orang kuat.Pada bulan ramadhan kemarin, umat Islam telah menjadi orang kuat selama sebulan, karena mereka mampu mengendalikan diri dan menguasai hawa nafsunya. Dalam kesempatan lain Nabi juga pernah berujar: Barang siapa mampu menahan diri maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa aman dan iman.

Ketiga, berkaitan dengan sifat sabar dan mampu mengendalikan diri ini adalah sifat dan sikap lapang dada sebagai ciri ketiga dari orang yang bertakwa. Orang-orang tersebut oleh Nabi dikategorikan sebagai kelompok orang-orang terhormat yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah Swt. dan di hari kiamat mereka segera dipanggil oleh Allah untuk menempati surga-Nya. Sabar menurut Imam al-Ghazali meliputi tujuh macam, yaitu sabar untuk tidak memenuhi kemauan nafsu perut dan farji, yang disebut dengan al-iffah; sabar menahan dari permusuhan dan seteru yang disebut dengan as-syaja’ah; sabar menahan diri dari amarah dan angkara murka yang disebut dengan al-hilm; sabar menahan diri dari hidup mewah dan berlebihan, yang disebut dengan az-zuhd; sabar dengan tetap ikhlas menerima bagian (rizki) yang telah ditentukan oleh Tuhan, yang disebut dengan al-qana’ah; sabar dari menyimpan rahasia, menerima permintaan maaf orang lain yang disebut dengan kitmanu sirrin dan sa’atu shadrin.



Keempat, orang-orang yang sanggup bertaubat atas segala dosa yang telah diperbuatnya. Dalam suatu riwayat diceritakan, dari Anas ra. bahwa ketika ayat ini turun, Iblis menangis seketika, sebab ia merasa tak mampu untuk terus menggoda manusia karena ampunan Allah Swt. yang terus-menerus diberikan kepada hamba-Nya  yang mau bertaubat, sebagaimana sabda Nabi: Setiap anak adam itu (pernah) bersalah (berdosa) dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang mau bertaubat. Maka di sinilah Allah menjanjikan kekuatan bagi orang yang selalu membaca kalimat thayyibahtahlil, tahmidtasbih dan istighfar, karena Iblis tidak akan pernah mampu menggodanya. Memang Iblis pernah bersumpah akan senantiasa menggoda anak Adam sepanjang hidup manusia. Tetapi Allah pun menjamin  akan senantiasa mengampuni dosa-dosa anak Adam selagi mereka masih mau meminta ampunan kepada-Nya. Maka bulan Syawal ini merupakan momentum yang paling tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan di antara mereka, ber-halal-bihalal, sebagai bentuk penghapusan dosa secara horizontal dan massal. Dalam Idul Fitri umat Islam memulai lembaran baru ini dengan mengisi amal-amal shalih. Tradisi silaturahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu adalah perilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Umat Islam berlatih untuk tetap menjalankan kesabaran dalam berbagai hal, karena orang sabar adalah kekasih Tuhan.



Suatu hari Nabi pernah bertanya kepada para sahabat: Atadruna man al-Muflis? Tahukah kalian, siapakah orang yang disebut orang yang bangkrut atau pailit itu? Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut adalah orang yang seluruh harta bendanya ludes". Kemudian Nabi bersabda: "Bukan, bukan itu orang yang disebut bangkrut itu. Orang bangkrut adalah, orang yang saat menghadap Allah di hari kiamat dengan membawa pahala shalatnya, puasanya, zakat dan hajinya, tetapi pada waktu hidup di dunia ia suka berbuat zalim (mengganggu saudaranya, tetangga, merampas hak orang lain) dan pada waktu meninggal belum sempat meminta maaf kepada mereka."


            Pada zaman modern ini, tradisi positif seperti silaturahim yang telah dibangun oleh orang tua kita dulu sudah semakin punah. Hal ini karena kehidupan modern cenderung materialistis dan individualis. Orang bersedia berteman jika ada kepentingan kerja atau bisnis.  Di kota-kota besar misalnya, antara tetangga satu dengan tetangga yang lain tidak saling mengenal karena rumah mereka sudah dibatasi oleh pagar dan dinding tembok yang tinggi. Sebagaimana yang diramalkan oleh Alvin Toffler, bahwa zaman modern akan melahirkan manusia-manusia impersonal, manusia yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaannya. Pengaruh IT dan perangkat media sosial lainnya, seperti handphone dan android juga mereduksi nilai silaturrahim yang tidak lagi face-to-face, tetapi sudah digantikan dengan face book dan aplikasi lainnya, termasuk pembelajaran di kelas dengan e-learning.


            Namun beruntung, umat Islam masih memiliki tradisi yang baik yang perlu dilestarikan untuk mengatasi dampak modernisasi tersebut, seperti: tadarrus al-Qur’an, tahlil dan yasin berjamaah, berzanji dan diba’, majlis-majlis ta’lim, baik di tingkat RT maupun RW. Tradisi tersebut merupakan salah satu bagian dari bentuk  ukhuwuah islamiyah, ukhuwah basyariyah dari sekian tradisi baik lainnya yang ada dalam ajaran Islam dan tradisi Islam Nusantara. Tradisi silaturrahim, saling berkunjung ke saudara, tetangga dan kawan, memuliakan tamu, adalah merupakan prilaku positif yang diajarkan oleh Islam. Bahkan ditegaskan oleh Nabi: Jika orang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka supaya menjalin silaturahim. Akhirnya, semoga ibadah puasa kita selama bulan ramadhan berdampak pada kehidupan sehari-hari selama 11 bulan ke depan.

 

Referensi: https://www.uin-malang.ac.id/r/200501/makna-idul-fitri.html

 

Prokes Idul Adha

Prokes Idul Adha

kementerian Agama Merilis tata cara peribadatan untuk hari raya idul adha.  Diantaranya bagaimana 
3 KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

3 KEUTAMAAN PUASA RAMADAN

 

Tiga Keutamaan Puasa Ramadan di Tengah Wabah Corona

3 keutamaan puasa ramadan



Meski suasana masih berada di tengah wabah Corona, menggapai keutamaan puasa Ramadan tetap menjadi prioritas kita bersama!

 

Ramadan selalu disambut dengan meriah. Kedatangannya adalah sebuah anugerah dari sang Maha Pemurah. Anugerah terindah terkandung dalam keutamaan puasa ramadhan. Untuk mendapatkannya, kita perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

 

Keutamaan Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama

keutamaan puasa ramadan pertama


Sepuluh hari pertama ramadhan adalah rahmat. Dilansir dari penasantri.id, rahmat terdiri dari tiga huruf ra’, ha’, mim’. Setiap kata arab yang berakar tiga huruf tersebut memiliki makna dasar, kelembutan, kehalusan dan kasih sayang. Di sana juga disebutkan sedikitnya ada 14 macam makna rahmat. Rahmat dapat bermakna islam, surga, hujan, kenabian, nikmat, al-Qur’an, rezeki, pertolongan dan kemenangan, sehat wal afiyat, cinta, keimanan, taufik, nabi Isa AS dan nabi Muhammad SAW. Maka saat wabah corona melanda, hanya rahmatNya yang dapat kita harapkan agar mampu melalui wabah corona sehingga selalu bisa berjumpa dengan bulan ramadhan. 

 

Keutamaan Puasa Ramadhan 10 Hari Kedua

keutamaan puasa ramadan kedua


Anugerah ampunan pada 10 hari kedua di bulan ramadhan jangan sampai kita sia-siakan. Mari kita manfaatkan dengan  intropeksi diri sendiri, masih begitu banyak dosa dan dosa yang telah kita lakukan. Maka keutamaan 10 hari kedua bisa menjadi momentum berharga untuk benar-benar menyatakan pertaubatan. Taubat nasuha, taubat yang sesungguh-sungguhnya taubat. Salah satu sarana yang bisa kita lakukan adalah dengan memperbanyak membaca istigfar. Menundukkan kepala sedalam-dalamnya dan berjanji tidak akan mengulangi dosa yang sama di masa depannya.

 

Keutamaan Puasa Ramadhan 10 Hari Ketiga

keutamaan puasa ramadan ketiga


Capaian amalan tertinggi dari seorang yang beriman adalah surga. Cara menumbuhkan harapan itu adalah selalu meningkatkan amalan-amalan terutama di sepuluh hari terakhir ramadhan. Melansir dari nu.or.id yang dikutip dari kitab Fathul Mu’in bahwa ada tiga amalan utama yang bisa diperbanyak untuk dilakukan. Pertama, memperbanyak sedekah dengan cara mencukupi kebutuhan keluarga dan berbuat baik kepada karib-kerabat serta tetangga. Kedua, memperbanyak membaca al-Qur’an dan ketiga, memperbanyak i’tikaf. Rasulullah sendiri juga beri'tikaf pada malam - malam terakhir Ramadan.

Mengenai i’tikaf karena masih dalam suasana corona, maka ada pandangan dari sebagian ulama mazhab Syafi’i yang menjelaskan memperbolehkan i’tikaf di ruangan dalam rumah yang biasa dikhususkan untuk shalat. Hal ini disepadankan dengan prinsip “jika shalat sunnah saja paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf di rumah semestinya bisa dilakukan”. 

Wabah corona tidak menjadi penghalang untuk mengejar dan menggapai seluruh keutamaan ramadhan baik itu di 10 hari pertama, 10 hari kedua maupun 10 hari ketiga. Pada akhirnya kita dapat memasuki idul fitri dengan keadaan fitrah terlahir kembali.