KARENA KARYA BUTUH RASA

KARENA KARYA BUTUH RASA

 

Gambar : Pinterest

Surprise sekali, hari ini cerpenku yang berjudul " Pilihan"  di jadikan tema Blogging Walk (BW) komunitas One Day One Post (ODOP). BW sendiri adalah istilah untuk silaturrahmi dan berkunjung ke blog anggota lain untuk saling menambah wawasan sekaligus memotivasi karya sesama teman. Bagiku BW ini memang bermanfaat banget. Apalagi untuk menambah inspirasi tentang bagaimana kita mengemas blog selanjutnya.

Nah kembali pada kekagetanku hari ini. Ternyata banyak yang merespon cerpenku dengan kata - kata positif. Artinya ada ungkapan kesan baik terhadap cerpenku. Kuakui ini adalah cerpenku yang tidak biasa. Kenapa? Karena cerpen ini pengerjaannya sangat lama. Cerpen ini adalah cerpen yang pertama kali kutulis, selain tugas pada masa sekolah dulu.

Suatu hari, aku di ajak seorang teman mengikuti workshop tulisan fiksi. Salah satu kompensasinya adalah setiap peserta harus menulis cerpen minimal satu bertema kearifan lokal. Berhari hari aku jadi pusing dengan PR ini, maklum aku nggak pernah nulis tema fiksi. Bingung memulai darimana. Karena mentor meminta untuk riset kearifan lokal setempat. Kuputuskan untuk memilih salah satu tema untuk bahan tulisanku nanti.  Akhirnya mainlah ke salah satu keindahan alam di daerah terdekatku. Tersebutlah Jurang Gatuk, destinasi wisata aliran sungai yang apik. Masih alami namun sering dikunjungi.

Nah, sesampai di tempat tujuan, aku bingung mau nulis apa. Akhirnya cuma mengamati tempat dan penduduk sekitar. Kebetulan dulu saat masih SD aku pernah jelajah Pramuka di sini. Paling tidak, sedikit ada pengetahuan yang sudah kukantongi. Beberapa hari setelah dari Jurang Gatuk,  aku teringat kisah seorang teman SMA. Saat itu aku bertandang ke rumahnya. Dia bercerita bahwa dulu sebenarnya dia dan seseorang teman sekelasku pernah saling menyimpan rasa. Namun si laki - laki ini tidak pernah mengungkapkan. Hanya berkata lewat gerak gerik dan respon matanya.

Setelah lulus laki - laki ini bekerja jauh. saat temanku yang perempuan  ini mau menikah, tiba - tiba dia datang dan menawarkan rasa serta komitmen. Temanku kaget,tapi dia bahagia karena rasa penasaran semenjak SMA terjawab sudah. Namun apalah daya, tanggal pernikahan sudah di depan mata. Tak ada yang bisa dilakukan. Kecuali sama - sama menyadari bahwa ini jalan hidup masing - masing. Sebagai sahabat, aku jadi larut dan ikut merasakan apa yang mereka berdua rasakan. Maka ide itu mengalir begitu saja karena ada hati saya yang ikut tergores di dalamnya.

Namun ternyata tidak berhenti sampai di situ. Meskipun ide itu dari hati. Akan tetapi sebagai pemula, saya masih terbata - bata untuk menulisnya. Tangan seperti kaku tak tahu apa yang akan ditulis. Tak ada diksi dalam pelupuk mata, tak ada aksara yang ingin bersuara. Bingung ..bingung..mau nulis apa. Semuanya hanya terkurung di kepala. Pelan - pelan mulai ku alirkan kata. Laptop sepertinya menertawakan ku. Karena pengulangan - pengulangan kata selalu membelengguku. Namun tetap kuteruskan hingga semua ide terekspresikan.

Tapi, ternyata aku hanya menemukan cerita yang hambar. Yang aku sendiri pun tertawa membacanya. Ya aku sebagai penulisnya sulit memaknai ceritaku sendiri. Alurnya acak - acakan. Saat itu mentorku berkata " Yang penting kau tulis semua idemu. Bacalah lagi setelah selesai, revisi.. endapkan dan besok baca lagi. Sampai kau menemukan hatimu di sana". Maka setiap ada waktu, ku baca lagi, ku edit lagi. Ternyata hal itu membuatku bisa tersenyum, karena aku jadi bisa memahami ceritaku sendiri, yang sebelumnya aku sebagai penulisnya, tak paham dengan apa yang kuceritakan.

Dari sini saya mengerti, ternyata kita butuh self editing. Mengoreksi sendiri apa yang sudah kita tulis. Self editing itu ada dua, yaitu self editing menyesuaikan alur dan yang kedua menyesuaikan antara tulisan dengan PUEBI. Dua duanya ini sangat penting. Berikutnya aku juga belajar bahwa apa yang kita tulis dengan menghadirkan hati akan memberi ruh pada tulisan tersebut. Sehingga tulisan itu terasa mengalir dan sampai juga ke hati pembaca. Walaupun dalam prosesnya akan butuh waktu dan usaha.

Jadi mungkin kenapa cerpen yang kushare kemarin berbeda. Karena memang tulisan itu adalah tulisan yang membuatnya butuh waktu lama. Berbeda dengan fiksi yang saya buat beberapa jam untuk mengejar deadline. Ternyata memang berbeda karya karya yang mendapat sentuhan rasa. Mungkin kalian juga pernah merasakan hal yang sama. Bagaimana dengan pengalamanmu menulis? Boleh share di kolom komentar.