NAMAKU SRI

NAMAKU SRI

 


Cerita Anak


Malam begitu sepi, sesunyi sawah kala musim kemarau. Rintihan angin di pagi hari terdengar layaknya orang yang sedang mengigau. Aku hanya bisa menghela nafas, melewati malam – malam terpurukku, berhari hari di sini, melihati teman – temanku yang sekarat satu persatu. Mataku jadi saksi bagaimana waktu mengakhiri nafas mereka pada akhir kehidupannya.
 Dulu aku tidak se-tragis seperti hari ini, keriangan menjadi hari – hariku saat bebas di alam semesta. Seperti pagi itu,
“Subhanallah, pagi ini begitu beku tapi sawahMu begitu segar..” Syukurku tak terkira, mengingat kesempatan untuk menghirup nafas pagi yang wangi. Bunga bunga bermekaran, demaun hijau menari lembut. Meskipun dingin masih menyelimuti.
Tiba-tiba saja... Kakiku yang menginjak bumi dipangkas. Tubuhku digoyang-goyang, digoncang-goncang. Sejenak kemudian, dunia menjadi gelap dalam mataku.
Aku tersadar, tiba-tiba tubuhku menjadi kecil-bahkan sangat mungil. Diriku berubah sangat berbeda dari sebelumnya.
“Oh Tuhan, apa yang terjadi denganku??? Ya Muhyi, tubuhku tinggal kepala, batang tubuhku, akar serabut dan daun tanganku, hilang tak membekas…. tapi aku bersyukur masih Engkau anugrahi hidup”.
 Sejak itu derita seperti terus menyertaiku. Aku terpisah dari ibu yang melahirkanku, ibu pertiwi.
Dengan tampah, wadah tempayan dari bambu, aku diiter-iter dan diputar-putar oleh tangan kuat milik pak tani. Ah, pusing.. Tujuh keliling atau mungkin lebih dari tujuh keliling aku tak sanggup menghitungnya.
''Pergilah kau kaplak,'' kata petani sambil mengibas-ngibas kepalaku. Kaplak adalah kepalaku yang tidak ada isinya alias kosong-melompong. Hal ini bisa diidentifikasi dengan memijat gundulku. Jika keras berarti berisi, dan jika empuk aku kosong. Para petani sangat membenci kami-kami yang minus isi. Mereka tak memberi toleransi sedikitpun. Mereka menyingkirkan dan membuang kami. Padahal kami bersaudara tapi nasib kami berbeda.
Kepala yang tak ada isinya akan bernasib apes. Pasalnya mereka akan ditinggal begitu saja di sawah, tanpa diurus lagi. Kepalaku yang mentes, penuh isi mengalami nasib sedikit lebih baik. Kami dibersihkan kemudian dibawa pulang. Tapi aku pesimis, jika nasibku akan menjadi lebih baik.
Dulu bentuk tubuhku tak begini, kawan! Aku dulu punya kepala, tubuh dan kaki. Tubuhku dulu jangkung semampai. Hijau lancip daunku. Di sela daunku ada buahku. Satu batang tubuhku bisa berbuah sampai 20-30 biji. Semakin berisi buahku maka semakin merunduk. Sehingga banyak orang menganggap buahku mirip kepalaku. Kepalaku lama-kelamaan menguning dan coklat muda setelah sekitar 4 bulan atau 120 hari. Kemudian diikuti tubuh dan kakiku. Aku menua.
Sejak peristiwa pagi itu, rumahku tidak di sawah. Tapi rumahku ada di rumah pak tani. Tiap hari aku di pepe, dijemur di panas matahari. Sebenarnya tak sebegitu masalah, karena aku sudah terbiasa di bawah terik panas matahari. Itu adalah salah satu energi pertumbuhanku.
Masalahnya adalah aku diinjak-injak tiap hari. Kemudian Aku diseret-seret hingga lecet semua. Waktu hujan, aku ditutupi agar tidak kehujanan. Padahal aku sudah terbiasa kehujanan. Mungkin pak tani tidak memahami itu.
Terkadang, kasihan melihat pak tani dengan ototnya yang legam membopong kepalaku dan teman-temanku ke bawah panas matahari terik. Dengan napas turun-naik dan ngos-ngosan tetap setia merawati aku dan teman-temanku.

Aku teringat ketika pak tani membantu proses kelahiranku dulu. Aku berasal dari biji padi. Aku bisa tumbuh di mana saja. Baik di sawah maupun di ladang. Umumnya aku di tanam di sawah yang banyak air. Aku tumbuh dalam bentuk rumpun, menggerumbul dengan teman-temanku. Karena kalau tumbuh sendiri, aku kesepian dan rentan terhadap hama penyakit.

Sebelum benihku siap dibenamkan ke ibu pertiwi, aku berbentuk bibit. Bibitku berasal dari gundulku yang mentes atau biji padi berisi. Untuk membedakan apakah gundulku termasuk bibit unggul atau bukan, biasanya pak tani meletakkan gundulku di dalam ember berisi air. Kepalaku dan teman-temanku yang tenggelam berarti yang berisi alias bibit unggul. Kalau jumlahku cukup banyak biasanya pak tani akan mengetesku dengan mengambil sampel 100 biji kepalaku. Jika yang tenggelam sekitar 90 biji maka aku dan temanku di anggap benih unggul.

Pak tani kemudian menanam benih padi yang berkecambah tadi ke lahan persemaian dengan cara menaburkan secara merata. Tidak itu saja, pak tani merawat aku dan teman-temanku dengan super sabar dan telaten. Pak tani tidak lupa selalu menjengukku dan teman-teman setiap hari. Pak tani memperlakukanku seperti anaknya. Ia biasa menjagaku di sawahnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa kami tidak kekurangan air atau kekeringan. Dan juga memastikan burung-burung Emprit tidak datang untuk mencicipi bulir-bulirku yang lezat. Biasanya ia akan memasang orang-orangan sawah yang ditarik dari satu tempat. Ketika burung datang pak tani menarik orang-orangan tersebut sambil berteriak, Hayo-hayo!”  pada akhirnya para burung terkaget-kaget tidak jadi memakanku.

Pelan-pelan tapi pasti tubuh dan daunku menjadi ulet. Dari warna hijau muda berubah menjadi hijau tua. Kemudian berangsur-angsur menjadi coklat muda. Pada saat itulah, pak tani merasa senang dan gembira karena sebentar lagi mereka bisa memanenku.

Dari sinilah penderitaanku dimulai. Seperti pada waktu pagi itu. Banyak temanku yang terpisah. Aku tercerabut dari akarku. Berpisah dari ibu yang telah melahirkanku. Tapi aku percaya pada pak tani yang sudah kuanggap sebagai ayah sekaligus bapakku. Semua itu demi masa depanku. Agar aku lebih berguna demi keberlangsungan kehidupan manusia. Berguna menjadi beras, menjadi nasi, nasi pecel, nasi kuning, nasi padang dan masih banyak macamnya. Berguna sebagai makanan pokok dan sumber tenaga atau kalori bagi seluruh umat manusia.  

***

Malam semakin larut saat seseorang tiba – tiba mencidukku dan teman – temanku, kami di timbang dengan alat yang besar. Setelah mantab lima kilogram, kami di pindah dalam kemasan plastik bening dengan di lem erat.

Kata Gogo temanku, kami akan di jual di pasar atau supermarket. Di pasar kami akan banyak bertemu dengan orang-orang dari level manapun, dari orang sederhana sampai orang kaya bahkan yang yang bersikap berada. Orang-orang ini akan gampang menawar. Sehingga di tempat ini, ramai dan berisik adalah hal yang sering di temui. Lain halnya jika di supermarket. Kami bisa melihat orang-orang yang harum parfum dengan dandanan yang elegan. Lampu – lampu ditata menyala, ruangannya harum dan dingin.. Kami akan ditata dengan rapi sehingga orang orang tertarik untuk membeli.

Namun seperti apapun tempatnya, harapanku aku dapat bermanfaat. Aku ingat pesan ibuku bahwa beruntunglah kau jika menjadi nasi, kebanggan tersendiri bisa menjadi bagian sumber energi bagi manusia. Karena sebaik-baiknya kehidupan adalah yang bermanfaat untuk semesta, harapanku aku menjadi bagian itu.

Tibalah aku di suatu rumah yang tampak megah, penuh dengan taman dan bunga. Kuingat perempuan yang dari tadi mengamati kemasanku saat di supermarket , ternyata membeliku dan membawa pulang. Aku senang, rasanya tidak sabar untuk menjadi bagian dari sumber makanan mereka.

Kulihat Ibu dan anak sedang berbincang asyik di teras. Pak  tua yang menggotong tubuhku tampak berjalan pelan dan sedikit membungkuk, sewaktu melewati seorang perempuan dengan dandanan yang menyala, gemerincing suara gelang emas ditangannya mengacaukan pendengaranku. Pak Tua bersikap sopan pertanda ia menghormati perempuan itu.

“Jangan lupa, besok pagi semua makanan harus ready semua, jam 8 acara Ulang tahun Caesar akan  dimulai” kata Nyonya bergelang lima emas itu mengagetkan laki-laki yang mengangkat tubuhku.

“ Iya nyonya, kami siapkan” Kata laki-laki itu sedikit takut.

Laki-laki tua segera ke suatu ruangan yang banyak sekali bahan makanan berserakan. Aroma rebusan daging dan bawang goreng harum memenuhi ruangan, beberapa orang perempuan terlihat sibuk. Menggoreng kentang, mengiris cabe, dan sesekali terdengar gelak tawa mereka. Meriuhkan suasana.

Laki-laki tua itu menurunkanku pada lantai keramik putih.

“Mak Siyah, jangan lupa nasinya harus sudah siap untuk sarapan. Jangan sampai telat,  nanti Nyonya besar, seperti kemarin. Bisa–bisa kita dipecat seperti Kang Deden. Lagi pula aku masih pengen di sini, Si Arman butuh uang banyak buat persiapan biaya ujian akhir sekolah“.kata Laki – laki tua itu dengan risau.

“Tenanglah, Kang Udin… Jam 3 malam nanti akan ku mulai tanak nasi. “

“Tenan Lo, “Mang Udin memastikan.

Pagi menjelang, aku sudah di sini. Bersama segala masakan yang tertata rapi. Capjay, Bakso, pecel, lontong balap, es krim, kue – kue coklat dengan aneka assesoris yang menghiasi.

 Beberapa orang ibu-ibu datang, mereka berkumpul dan memperbincangkan apa saja. Dari saudara terjauh sampai tetangga, dari atasan sampai suaminya. Semuanya terurai habis. Sampai aku bisa mendengar dari cerita A sampai Z.

Diikuti hingar bingar anak – anak mereka. Berlarian sepanjang ruangan. Beberapa anak mengambil balon warna – warni. Seorang badut memamerkan sulapannya. Tiba – tiba dari balik topi hitam Sang Badut, menyembul seekor merpati putih yang cantik. Anak – anak teriak histeris, bertepuk tangan dengan kagum dan senang. Merpati terbang mengitari ruangan dan hilang di balik jendela.

   Saatnya yang di tunggu tiba, setelah pemotongan kue tart. Para undangan menyerbu ruang makan. Beberapa orang tua mengambil pecel, lontong balap khas Jawa. Anak – anak menyantap bakso dan es krim dengan wajah riang. Aku pun menyiapkan diri, dengan segala keistimewaanku. Nasi dengan warna kuning yang mempesona. Dihiasi dengan pernak- pernik mie, potongan telur dadar, ayam panggang di lengkapi dengan hiasan hijau daun pisang. Berharap bisa dinikmati setiap orang dengan hati senang.

Semakin siang aku mulai resah, tiada yang menciduk nasiku, nasi kuning yang sengaja dimasak Mak Siyah ternyata masih sepi peminat. Mie ayam, bakso, capjay hampir semuanya ludes.

Aku duduk termangu. Menunggu seseorang yang mau memindahkan kami ke piringnya. Berharap kami memberi manfaat untuk di santap sebagai penambah energi manusia. Seseorang yang ku tunggu, ternyata datang juga. Seseorang yang akan menggenapi cita–citaku, sebagai bahan pokok. Seseorang yang bisa menggenapi fitrah kami, menjadi sumber energy untuk manusia.

Anak itu  terus mengunyah teman- temanku dengan lahap. Tinggal sedikit lagi sendok itu meraihku. Tiba- tiba,

“Caesar, ayo Nak…Tante Amanda sudah menunggumu. Jangan lupa bilang terima kasih ya untuk kadonya” kata Nyonya besar membisikkan sesuatu pada anak yang sedang asyik makan ini. Buru-buru dia meletakkan piring dan menghambur pergi. Menyisakan aku yang dari tadi menunggu. Aku terdiam dalam piring yang membisu. Kami nasi kuning dalam piring biru cantik hanya saling memandang berharap ada yang melanjutkan menyantap nasi kuning ini.

Satu jam, dua jam, hingga beberapa orang berpamitan. Mereka saling berpelukan dan tertawa ceria melambaikan tangan. Aku hanya bisa membesarkan hati, berharap ada seseorang yang mau meluangkan waktu menyantap sisa makanan ini.

Dua orang datang, merapikan meja, mengemasi piring-piring dan mengangkatku pergi. Pelayan itu menyendok tubuhku, menjatuhkanku pada sebuah benda seperti bak hitam besar. Dia memiringkan piring, mendorong sendok menyapu bersih isi piring. Sendok itu mendorong tubuhku dan teman – temanku. Kami jatuh ke dalam bak dengan teriakan dan tangisan yang tak terdengarkan

“Tidakk…jangan buang aku, ku mohon….” Pintaku.

“Aku adalah sumber energi besar untukmu, sego atau nasi dihasilkan dari tubuhku, dengan penuh perjuangan aku menjadi seperti ini, tapi semua seakan tak pedulikan penderitaanku...”

“Manusia hanya ingin instant, hanya mau enaknya...”” Ku hela nafas.
“Astagfirullah, kenapa aku mengeluh? Gampang menyerah? Ya Tuhan ampunilah dosa-dosaku,”.

Aku jatuh, tergeletak. Antara sadar dan tidak, berharap dalam ketidakpastian. Kau pastinya tahu berapa lama aku dan teman temanku berpayah-payah. Kau tahu proses kami kan? Bagaimana gabah menjadi beras dan dimasak menjadi nasi kuning.

Kau tahu kawan, itulah keadaanku kini. Ternyata nasibku berakhir seperti ini. Berhari-hari kami dalam kresek hitam, penuh bau. Kami menangis dan berpelukan bersama-sama, menangisi takdir, ternyata kami harus berakhir seperti ini. Sesak nafasku, tapi mungkin ini sudah jalanNya. Gagal cita-citaku menjadi sumber energi, aku harus terhempas dan basi.

Kawan, itulah proses kehidupanku. Penuh suka dan duka. Setelah mengenalku dan tahu riwayatku, maukah kau berteman denganku? Marilah kita bersahabat kawan. Kau tahu kan bagaimana perjuanganku untuk menjadi sebutir nasi. Perjuangan yang sangat lama dan penuh pengorbanan. Aku harap engkau menghargai arti persahabatan. Janganlah membuang nasi walau hanya sebutir. Cintailah aku seperti engkau mencintai kehidupan. Seperti cintanya petani kala menanamku, merawatku dan memanenku. Pada akhirnya, mereka ikhlas melepaskanku berproses menemukan nasibku.

 Kalau kau merasa kelebihan nasi berikanlah ke orang lain. Tolong, jangan menghambur-hamburkanku. Karena di belahan bumi lain masih banyak teman kita yang kesulitan untuk makan. Apalagi untuk memakan nasi. Aku harap kau dengar suaraku. 

*****

Namaku Sri, aku dan saudara – saudaraku adalah kaum oriza sativa. Kata para manusia  kami adalah titisan Dewi Sri. Hingga aku bangga di panggil Sri. Mungkin kau menyimpulkan bahwa aku lebay, namun inilah aku dan kisahku. Bukan untuk membuatmu mengasihiku. Hanya ingin memberi tahu bahwa ada jeritan semesta yang sering tak kau dengar dan sadari. Bukalah mata hatimu….kau akan menemukan suara-suara bumi, air dan udara memanggil jiwa.